Penumbuhkembangan Karakter Dalam Keluarga Hindu Di Desa Bayunggede Sebagai Desa Kuno Di Bali

Ni Komang Sutriyanti

Abstract


Sembah sujud angayubagia penulis haturkan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas waranugrahaNya, buku yang ada dihadapan pembaca yang budiman dapat terselesaikan. Sesungguhnya buku ini adalah hasil kajian saya dalam meraih gelar Doktor Ilmu Agama di Program Pascasarjana IHDN Denpasar. Kemudian penulis melihat secara keseluruhan konten dari kajian ini sangat menarik dan menjadi layak untuk dipublikasi, sehingga dapat dijadikan pengayaan referensi oleh kalangan akademik, budayawan, pendidik dan berbagai kalangan masyarakat.

Sebab selama ini saya melihat bahwasanyanya sangat banyak kajian dari kalangan akademik mengalami kemandegan. Banyak hasil kajian tidak berlanjut pada proses publikasi, sehingga terputus dan berhenti hanya pada hasil kajian tanpa adanya respon dari khalayak ramai yang tentu saja membutuhkan literature yang berhubungan dengan referensi dalam memperkaya kasanah pengetahuan mereka.

Sungguh disayangkan, jika selama ini kajian hanya berada pada lipatan-lipatan kertas penelitian dalam rak perpustakaan. Padahal kajian tersebut memiliki bobot yang tinggi dalam hal pengembangan ilmu. Terpenting dari semua itu adalah asas kebermanfaatkan kajian tersebut untuk “mencerdaskan” bangsa dan Negara. Kajian ini sesungguhnya berlatar dari respon saya terhadap kehidupan warga desa Bayung Gede dalam ketradisiannya yang kuat. Desa kuno yang masih mempertahankan adat dan tradisi kekunoanya yang menjadikan desa ini memiliki corak yang khas dibandingkan dengan desa di Bali selatan (Nagari). Sebagaimana desa-desa kuno dan pegunungan di Bali, Bayung Gede pun hidup dalam kebertahanan tradisi bercampur dengan sikap religi warisan leluhur mereka. Konon, dilihat dari genealogis historikalnya Bayung Gede merupakan bagian dari Desa Panglipuran yang termasuk Banua Desa Gebog Domas. Gebog Domas menurut Reuter (2005) merupakan satuan Desa Pegunungan yang merupakan satu kesatuan Banua yang diikat dengan sistem tradisi kebaliaanya yang kuat. Gebog Domas ini terdiri dari beberapa desa, dan menjadikan pura Puncak Penulisan (Tegeh Kahuripan) sebagai pusat penyatuan dan semua desa yang berada dalam ikatan ini wajib mempersembahkan ritus-ritus suci.

Saya melihat dan kemudian melakukan telisik terhadap kehidupan sosial mereka yang masih kental nuansa magis dalam ketaatannya terhadap aturan adat dan etika sosial. Kemudian perhatian saya mengarah pada pola dan sistem pendidikan yang ada dalam lingkungan keluarga. Sebab saya mengacu pada pradigma pendidikan modern, bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua dan memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Terlebih dalam upaya menumbuhkembangkan karakter yang baik pada diri anak didik. Jadi, bagaimana pola asuh dan cara mendidik di keluarga sangat menentukan sikap dan perilaku anak didik dalam perkembangannya. Keluarga juga memiliki peran dalam menanamkan aspek spiritual dalam diri anak didik, sehingga menjadi hal yang menarik mengkorelasikan paradigm tersebut dengan kehidupan social warga Bayung Gede yang masih berada dalam lingkungan tradisi.

Berdasarkan atas hal itu pula, saya memulai menganalisis hal-hal yang berhubungan dengan geografis Desa Bayung Gede yang berada di gugusan desa pegunungan Bali Aga. Wilayah yang berada di kaki bukit Cintamani (Kintamani sekarang) merupakan representasi dari peradaban Bali Kuno yang dipenuhi dengan kekayaan emik (keyakinan) dalam kesepakatan dengan para dewa, sesama manusianya dan lingkungan. Stukturasi kekerabatan dan desa menentukan sistem

kepercayaan dan praktik-praktik beragama mereka yang tradisional.

Sistem Ulu-Apad merupakan corak sistem desa yang mana mereka memiliki kuasa dan melegetimasi segala sistem adat dan kehidupan warga desa Bayung Gede. Selanjutnya kerumitan semakin sulit dipahami adalah struktur kekerabatan atau keluarga yang ada di desa Bayung Gede. Kekerabatn terbagi dalam beberapa kelompok, yakni Keluarga Pengarep yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kewajiban adat dan hal adat. Keluarga Balu Angkep adalah keluarga yang tidak memiliki suami atau istri dan Keluarga Nyada merupakan keluarga yang sudah tidak terikat lagi dengan aturan adat dan hak-hak adat. Kemudian hal yang menarik lainnya adalah sistem wewaran kelahiran masih tetap didayagunakan ketika ada kelahiran. Sebab ada kepercayaan setiap anak yang lahir membawa potensi dan karakternya masing-masing, dan hal tersebut sangat dipengaruhi oleh weton kelahiran. Semua sistem tradisi kelahiran tersebut seolah-olah memberikan spirit terhadap setiap anak, sehingga dapat diarahkan untuk memiliki karakter yang baik dan sebagai penajut tradisi Bayung Gede yang sarat magis di mana terbingkai dalam sikap religius Hindu.

Selanjutnya saya lebih tertarik pada proses bagaimana karakter tersebut ditumbuhkembangkan pada keluarga sebagai lembaga tertua di desa Bayung Gede. Dalm prosesnya saya melihat peran serta seorang ibu dan ayah pada keluarga inti sangat penting di dalam menumbuhkembangkan karakter tersebut. Dalam lingkungan keluarga, tata aturan dan etika kasusilan dijalankan dalam lingkar tradisi yang kuat. Dalam keluarga, ada etika seorang istri dengan suami, anak dengan orang tuanya, pun sebaliknya. Semua ada tatanan tradisi dalam pembiasaan yang takzim, bahwa melanggar tatanan tersebut maka sanksi adat dan karma phala adalah ganjarannya. Selain itu, semua aspek kehidupan manusia dalam kelahirannya di keluarga tertentu dalam lingkungannya, ritual menjadi hal yang sangat mendominasi. Termasuk juga dalam hal membangun perilaku yang baik, ritual seolah-olah menjadi alat untuk tujuan tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dalam peritusan diri; mulai dari bayi lahir---kemudian memasuki usia brahmacari, grehasta, wanaprasta bahkan pada saat kematian. Semua diritualkan dalam penghayatan suci. Orang tua dan tetua berharap dengan ritual generasi mereka secara niskala dapat tersucikan, baik pikiran, ucapan dan tindakan mereka.

Tentunya semua itu berimplikasi pada berbagai hal dalam kehidupan sosio-religius warga Bayung Gede. Atas hal itu, saya pun tidak ketinggalan melakukan telisik terhadap dampak atau lebih luasnya “implikasi” dari praktik dan kepercayaan warga Bayung Gede terhadap cara mereka menumbuhkembangkan karakter generasi mereka. Meskipun kehidupan mereka ada dalam balutan tradisi, tetapi perilaku sehari-hari merupakan hal yang paling fundamental di dalam mereka menjaga keberlangsungan tradisi, adat, agama dan kepercayaan serta penghayatan mereka akan hal yang niskala. Implikasi ini tentunya saya telisik dengan berbagai sudut pandang, sehingga akhirnya sampai pada sebuah temuan bahwa tradisi, kepercayaan, ritual, kebiasaan adat, tatanan adat, dan keyakinan terhadap leluhur serta para dewa ternyata memberikan pengaruh yang kuat terhadap praktik-praktik mereka dalam merealisasikan sebuah pola edukasi dalam mendidik generasi mereka agar berperilku yang berkarakter.

Terlepas dari semua itu, kajian ini saya akui sangat jauh dari kesempurnaan dan analisis yang masih belum terlalu mendalam terhadap berbagai hal di Desa Bayung Gede. Beragam pertanyaan justru tidak terjawab dalam kajian ini, dan pertanyaan baru selalu muncul sehingga ada pergulatan dialektika dalam saya melakuka analisis. Oleh sebab itu, maka sangat penting dewan pembaca melakukan kritik dan saran untuk menyempurnakan kajian ini. Sebab dalam pardigma saya, kajian yang baik adalah memunculkan permasalahan yang baru, sehingga ke depannya dapat dijadikan kajian selanjutnya. Pada akhir kata pengantar ini, saya tidak lupa mengucapkan terimakasih yang mendalam kepada rector IHDN Denpasar, Direktur Pascasarjana IHDN Denpasar, promotor-kopromotor, dosen dan staf pegawai di lingkungan IHDN Denpasar. Tidak lupa juga saya mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada informan dan semua warga desa Bayung Gede yang selalu memberikan inspirasi kehidupan yang sederhana tetapi bermakna.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jayapangus Press Books Indexed By:

 

Jayapangus Press Books site and its metadata are licensed under CC BY-SA